Kamis, 23 Januari 2014

Menuangkan Pemikiran Untuk "Silangit" (bagian 1)


Danau Toba di Prov. Sumatera Utara merupakan danau volcano-tectonic terbesar di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Danau Toba secara geografis terletak antara koordinat 2o10’ LU – 3o0’ LU dan 98o20” BT – 99o50” BT dan pada ketinggian sekitar 905 m dpl. Wilayah Danau Toba mempunyai panjang 100 km dan lebar 30 km. Danau Toba dikelilingi oleh 7 (tujuh) kabupten yakni Kab. Tapanuli Utara, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Dairi, Kab. Samosir, Kab. Karo, Kab. Simalungun dan Kab. Toba. Danau Toba berjarak 176 km dengan waktu tempuh ± 5 – 6 jam ke barat dari ibukota propinsi yaitu Medan. 

Gambar 1. Kawasan Danau Toba [1](Sumber : Badan Koordinasi Penataan Ruang )


Danau Toba, memiliki peran penting  tidak hanya bagi masyarakat yang tinggal disekitarnya, namun juga bagi berperan bagi masyarakat provinsi Sumatera Utara dan menjadi salah satu sumber yang ikut mendatangkan devisa bagi negara. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, Danau Toba dipergunakan sebagai sumber air dan sumber penghasilan bagi kehidupan sehari-hari bahkan juga dipergunakan sebagai tempat pembuangan hasil aktifitas masyarakat tersebut. Danau Toba dipakai sebagai tempat peternakan ikan air tawar dan sumber irigasi bagi masyarakat. Danau Toba memiliki potensi wisata alam, wisata spiritual, wisata sejarah dan budaya, atau pun wisata arsitektur dan kuliner. Suasana yang sejuk dan menyegarkan, hamparan air yang jernih, serta pemandangan yang mempesona dengan pegunungan hijau adalah sebagian kecil saja dari deskripsi keindahan Danau Toba yang mengagumkan. Berlimpahnya sumberdaya sehingga menjadikan sumber pendapatan daerah dan devisa bagi negara Danau Toba juga dipergunakan sebagai salah sumber pembangkit yang sampai saat ini menjadi andalan Provinsi Sumatera Utara bahkan negara Indonesia. Danau Toba juga menjadi sumber energi untuk produksi PT Inalum yang menghasilkan Alumunium.

Indikator ekonomi yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi suatu daerah, dapat dilihat dari indikator angka Pendapatan Regional Domestik Bruto (PDRB). Meskipun mempunyai peran yang penting dari segi ekonomi masyarakat, pada kenyataannya, dari sejak tahun 2008 hingga 2012, Sumatera Utara selalu berada dibawah rata-rata PDB Indonesia. Hal tersebut bisa dilihat sebagaimana data dibawah ini.

  
 Gambar 2. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumatera Utara[2] (Sumber : BPS Sumut)


Indikator ekonomi lain yang  dapat kita lihat adalah Produk Regional Domestik Bruto (PDRB) per Kapita. Dari sejak tahun 2008 hingga 2012, Sumatera Utara tetap selalu berada dibawah rata-rata PDB Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari table dibawah ini :

Tabel 1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per kapitaAtas Dasar Harga Berlaku Menurut  Provinsi, 2008 - 2012                          (Ribu Rupiah)[3]  *) angka sementara  **) Angka sangat sementara

Dari data tersebut dapat juga dilihat PDRB per kabupaten khususnya kabupaten-kabupaten yang berada disekitar kawasan Danau Toba didapat sebagaimana tabel dibawah ini :

Tabel 2. PDRB Per Kapita Menurut Kabupaten/Kota 2008 - 2011[4] (sumber : BPS Sumatera Utara)
*) angka sementara
**) Angka sangat sementara          


Sementara itu jika dilihat dari sisi pariwisata yang selama ini menjadi andalan PAD Sumatera Utara dimana hal tersebut dilihat dari rata-rata kedatangan wisatawan, , kenyataannya bahwa dari data-data BPS, perbandingan  wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Polonia (Medan) hanya 10% dari wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali, Dibandingkan dengan Bali, tidak kurang dari 10% pada 5 (lima) tahun kebelakang, namun kurang lebih 10% jika dibanding Jakarta dan kurang dari 20% dibanding dengan Batam. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3. 

Pemerintah Pusat telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dimana Danau Toba telah ditetapkan sebagai sebuah Kawasan Strategis Nasional. Menurut Peraturan Pemerintah tersebut, maksud dari Kawasan Strategis Nasional yaitu wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Oleh sebab sejak tahun 2009 telah disusun Rancangan Peraturan Presiden guna menyusun Tata Ruang Wilayah yang menjadi dasar operasional pemanfaatan , pengelolaan dan pembangunan berkelanjutan di Kawasan Danau Toba yang diarahkan kepada permasalahan konservasi dan Pariwisata. Pengembangan Kawasan Danau Toba sangat mendesak dilakukan agar memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan wilayah di sekitar kawasan ini. Andalan potensi yang diharapkan dapat dengan cepat meningkatkan perekonomian di Kawasan Danau Toba memang adalah sektor pariwisata, walaupun faktor lain seperti pertanian dan perkebunan juga tidak kalah penting dapat mendatangkan pendapatan daerah dan meningkatkan kesejateraan masyarakat di sekitarnya. 

Dari permsalahan diatas serta dukungan terhadap sektor pariwisata, ketersediaan infrakstruktur berupa infrastruktur transportasi merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan. Hal itu dikarenakan karena sektor transportasi berperan sebagai sarana penggerak perekonomian daerah bersangkutan untuk mendistribusikan barang, jasa dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan (Abbas, 2003).  Dengan jarak 176 km yang dapat ditempuh dalam 5 – 6 jam ke arah barat dari ibukota propinsi yaitu Medan dan ditambah kondisi infrastruktur jalan menuju kawasan Danau Toba yang kurang baik, membuat Danau Toba selama ini kurang diminati wisatawan untuk dikunjungi. Oleh sebab itu pemerintah telah menyediakan infrastruktur transportasi udara yakni Bandar Udara Silangit di Kecamatan Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara.

Bandara Silangit  adalah sebuah bandara peninggalan Jepang dan merupakan bandara yang terletak ditengah-tengah antara daerah Pantai Timur  dan Pantai Barat Provinsi Sumatera Utara serta merupakan bandara yang cukup dekat ke Kawasan Danau Toba. Menurut pemapan Direktur Utama PT Angkasa Pura II (2013), Bandara Silangit memiliki panjang Runway (2250 x 30), Taxiway A (75 x 15 M), Taxiway B (150 x 23 M), Apron A (60 x 40 M), Apron B (150 x 80 M) sehingga bandara ini dapat didarati oleh pesawat sejenis B737-500/F-100/ATR-70/CN235. Bandara Silangit saat ini dikelola sepenuhnya secara komersial oleh PT Angkasa Pura II, dimana sebelumnya bandara ini dikelola oleh Kementrian Perhubungan Republik Indonesia.

Namun hingga saat ini, Bandara Silangit belum mampu memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan. Besarnya investasi yang telah didanai baik oleh pemerintah maupun oleh operator Bandara (PT Angkasa Pura II) tidak sejalan dengan revenue yang diharapkan pihak operator. Banyak faktor yang menyebabkan penggunaan bandara ini tidak seperti yang diharapkan salah satunya adalah kurangnya faktor demand dari penggunaan bandara ini yang mengakibatnya revenue bandara tidak mencapai sebagaimana yang diharapkan,  sehingga mengakibatkan bandara ini menjadi kurang menguntungkan terutama dari sisi investasi karena mempunyai masa pengembalian (Payback Period) yang melewati 15 tahun. Dan apabila permasalahan kurangnya penggunaan Bandara Silangit tersebut dibiarkan, tidak hanya berdampak kepada investasi yang telah dilakukan pemerintah di Bandara Silangit saja, tapi juga berdampak kepada keberlangsungan pariwisata di Kawasan Danau Toba dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan juga tidak tercapai.  (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar