Rabu, 23 Mei 2012

Tentang Ulos batak (oleh Oloan Pardede)


Oloan Pardede
 

[ JENIS DAN TATA CARA PENGGUNAANNYA ]
Pada jaman dahulu sebelum orang batak mengenal tekstil buatan luar, ulos adalah pakaian sehari-hari. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut “hande-hande” sedang bagian bawah disebut “singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”. Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen”, untuk penutup pungung disebut “hoba-hoba dan bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong . Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop” sedang alat untuk menggendong disebut' “parompa”.
Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli. Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan dan hanya dipakai pada waktu tertentu saja.
Proses pembuatan ulos batak.
Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos. Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut “itom .
Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut “manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan. Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.
Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut “mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.
Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk “diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan.
Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna.
Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah “mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan. Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.
Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos “parompa” ini disebut “mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak).
Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut “marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.
Jenis Ulos
1. Ulos Jugia.
Ulos ini disebut juga “ulos naso ra pipot atau “pinunsaan”. Biasanya ulos yang harga dan nilainya sangat mahal dalam suku Batak disebut ulos “homitan” yang disimpan di “hombung” atau “parmonang-monangan” (berupa Iemari pada jaman dulu kala). Menurut kepercayaan orang Batak, ulos ini tidak diperbolehkan dipakai sembarangan kecuali orang yang sudah “saur matua” atau kata lain “naung gabe” (orang tua yang sudah mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan perempuan). Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau belum mempunyai keturuan walaupun telah mempunyai cucu dari sebahagian anaknya, orang tua tersebut belum bisa disebut atau digolongkan dengan tingkalan saur matua. Hanya orang yang disebut “nagabe” sajalah yang berhak memakai ulos tersebut. Jadi ukuran hagabeon dalam adat suku Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan pangkat maupun kekayaan.
Tingginya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos sering menjadi barang warisan orang tua kepada anaknya dan nialainya sama dengan “sitoppi” (emas yang dipakai oleh istri raja pada waktu pesta) yang ukurannya sama dengan ukuran padi yang disepakati dan tentu jumlah besar.
2. Ulos Ragi Hidup.
Ulos ini setingkat dibawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan ulos ini adalah yang paling tinggi nilanya, mengingat ulos ini memasyarakat pemakainya dalam upacara adat Batak . Ulos ini dapat dipakai untuk berbagai keperluan pada upacara duka cita maupun upacara suka cita. Dan juga dapat dipakai oleh Raja-raja maupun oleh masyarakat pertengahan. Pada jaman dahulu dipakai juga untuk “mangupa tondi” (mengukuhkan semangat) seorang anak yang baru lahir. Ulos ini juga dipakai oleh suhut si habolonan (tuan rumah). Ini yang membedakannya dengan suhut yang lain, yang dalam versi “Dalihan Na Tolu” disebut dongan tubu.
Dalam system kekeluargaan orang Batak. Kelompok satu marga ( dongan tubu) adalah kelompok “sisada raga-raga sisada somba” terhadap kelompok marga lain. Ada pepatah yang mengatakan “martanda do suhul, marbona sakkalan, marnata do suhut, marnampuna do ugasan”, yang dapat diartikan walaupun pesta itu untuk kepentingan bersama, hak yang punya hajat (suhut sihabolonan) tetap diakui sebagai pengambil kata putus (putusan terakhir). Dengan memakai ulos ini akan jelas kelihatan siapa sebenarnya tuan rumah. Pembuatan ulos ini berbeda dengan pembuatan ulos lain, sebab ulos ini dapat dikerjakan secara gotong royong. Dengan kata lain, dikerjakan secara terpisah dengan orang yang berbeda. Kedua sisi ulos kiri dan kanan (ambi) dikerjakan oleh dua orang. Kepala ulos atas bawah (tinorpa) dikerjakan oleh dua orang pula, sedangkan bagian tengah atau badan ulos (tor) dikerjakan satu orang. Sehingga seluruhnya dikerjakan lima orang. Kemudian hasil kerja ke lima orang ini disatukan (diihot) menjadi satu kesatuan yang disebut ulos “Ragi Hidup”.
Mengapa harus dikerjakan cara demikian? Mengerjakan ulos ini harus selesai dalam waktu tertentu menurut “hatiha” Batak (kalender Batak). Bila dimulai Artia (hari pertama) selesai di Tula (hari tengah dua puluh). Bila seorang Tua meninggal dunia, yang memakai ulos ini ialah anak yang sulung sedang yang lainnya memakai ulos “sibolang”. Ulos ini juga sangat baik bila diberikan sebagai ulos “Panggabei” (Ulos Saur Matua) kepada cucu dari anak yang meninggal. Pada saat itu nilai ulos Ragi Hidup sama dengan ulos jugia. Pada upacara perkawinan, ulos ini biasanya diberikan sebagai ulos “Pansamot” (untuk orang tua pengantin laki-laki) dan ulos ini tidak bisa diberikan kepada pengantin oleh siapa pun. Dan didaerah Simalungun ulos Ragi Hidup tidak boleh dipakai oleh kaum wanita.
3. Ragi Hotang.
Ulos ini biasanya diberikan kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai ulos “Marjabu”. Dengan pemberian ulos ini dimaksudkan agar ikatan batin seperti rotan (hotang). Cara pemberiannya kepada kedua pengantin ialah disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat.
Pada jaman dahulu rotan adalah tali pengikat sebuah benda yang dianggap paling kuat dan ampuh. Inilah yang dilambangkan oleh ragi (corak) tersebut.
4. Ulos Sadum.
Ulos ini penuh dengan warna warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai untuk suasana suka cita. Di Tapanuli Selatan ulos ini biasanya dipakai sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja. Untuk mengundang (marontang) raja raja, ulos ini dipakai sebagai alas sirih diatas piring besar (pinggan godang burangir/harunduk panyurduan).
Aturan pemakaian ulos ini demikian ketat hingga ada golongan tertentu di Tapanuli Selatan dilarang memakai ulos ini. Begitu indahnya ulos ini sehingga didaerah lain sering dipakai sebagai ulos kenang-kenangan dan bahkan dibuat pula sebagai hiasan dinding. Ulos ini sering pula diberi sebagai kenang kenangan kepada pejabat pejabat yang berkunjung ke daerah.
5. Ulos Runjat.
Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang sebagai ulos “edang-edang” (dipakai pada waktu pergi ke undangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Natolu diluar hasuhutan bolon, misalnya oleh Tulang (paman), pariban (kakak pengantin perempuan yang sudah kawin), dan pamarai (pakcik pengantin perempuan). Ulos ini juga dapat diberikan pada waktu “mangupa-upa” dalam acara pesta gembira (ulaon silas ni roha).
Kelima jenis ulos ini adalah merupakan ulos homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini jarang dipakai hingga tidak perlu dicuci dan biasanya cukup dijemur di siang hari pada waktu masa bulan purnama (tula).
6. Ulos Sibolang.
Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan duka cita atau suka cita. Untuk keperluan duka cita biasanya dipilih dari jenis warna hitamnya menonjol, sedang bila dalam acara suka cita dipilih dari warna yang putihnya menonjol. Dalam acara duka cita ulos ini paling banyak dipergunakan orang. Untuk ulos “saput” atau ulos “tujung” harusnya dari jenis ulos ini dan tidak boleh dari jenis yang lain. Dalam upacara perkawinan ulos ini biasanya dipakai sebagai “tutup ni ampang” dan juga bisa disandang, akan tetapi dipilih dari jenis yang warnanya putihnya menonjol. Inilah yang disebut “ulos pamontari”. Karena ulos ini dapat dipakai untuk segala peristiwa adat maka ulos ini dinilai paling tinggi dari segi adat batak. Harganya relatif murah sehingga dapat dijangkau orang kebanyakan. Ulos ini tidak lajim dipakai sebagai ulos pangupa atau parompa.
7. Ulos Suri-suri Ganjang.
Biasanya disebut saja ulos Suri-suri, berhubung coraknya berbentuk sisir memanjang. Dahulu ulos ini diperguakan sebagai ampe-ampe/hande-hande. Pada waktu margondang (memukul gendang) ulos ini dipakai hula-hula menyambut pihak anak boru. Ulos ini juga dapat diberikan sebagai “ulos tondi” kepada pengantin. Ulos ini sering juga dipakai kaum wanita sebagai sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu karena panjangnya melebihi ulos biasa. Bila dipakai sebagai ampe-ampe bisa mencapai dua kali lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga kelihatan sipemakai layaknya memakai dua ulos.
8. Ulos Mangiring.
Ulos ini mempunyai corak yang saling iring-beriring. Ini melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Ulos ini sering diberikan orang tua sebagai ulos parompa kepada cucunya. Seiring dengan pemberian ulos itu kelak akan lahir anak, kemudian lahir pula adik-adiknya sebagai temannya seiring dan sejalan. Ulos ini juga dapat dipakai sebagai pakaian sehari-hari dalam bentuk tali-tali (detar) untuk kaum laki-laki. Bagi kaum wanita juga dapat dipakai sebagai saong (tudung). Pada waktu upacara “mampe goar” (pembaptisan anak) ulos ini juga dapat dipakai sebagai bulang-bulang, diberikan pihak hula-hula kepada menantu. Bila mampe goar untuk anak sulung harus ulos jenis “Bintang maratur'”.
9. Bintang Maratur.
Ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang yang teratur didalam ulos ini menunjukkan orang yang patuh, rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal “sinadongan” (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang, semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari dapat dipakai sebagai hande-hande (ampe-ampe), juga dapat dipakai sebagai tali-tali atau saong. Sedangkan nilai dan fungsinya sama dengan ulos mangiring dan harganya relatif sama.
10. Sitoluntuho-Bolean.
Ulos ini biasanya hanya dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita. Tidak mempunyai makna adat kecuali bila diberikan kepada seorang anak yang baru lahir sebagai ulos parompa. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan, yang dalam istilah adat batak dikatakan sebagai ulos panoropi yang diberikan hula-hula kepada boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut Sitoluntuho karena raginya/coraknya berjejer tiga, merupakan “tuho” atau “tugal” yang biasanya dipakai untuk melubang tanah guna menanam benih.
11. Ulos Jungkit.
Ulos ini jenis ulos “nanidondang” atau ulos paruda (permata). Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dan keluarga Raja-raja untuk hoba-hoba yang dipakai hingga dada. Juga dipakai pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin. Pada waktu dahulu kala, purada atau permata ini dibawa oleh saudagar-saudagar dari India lewat Bandar Barus. Pada pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak ada lagi diperdagangkan. Maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara “manjungkit” (mengkait) benang ulos tersebut. Ragi yang dibuat hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang atau Lebong. Karena proses pembuatannya sangat sulit, menyebabkan ulos ini merupakan barang langka, maka kedudukannya diganti oleh kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik didaerah leluhur si Raja Batak pun pada waktu acara perkawinan kain songket ini biasa dipakai para anak gadis/pengantin perempuan sebagai pengganti ulos nanidondang. Disinilah pertanda atau merupakan suatu bukti telah pudarnya nilai ulos bagi orang Batak.
12. Ulos Lobu-Lobu .
Jenis ulos ini biasanya dipesan langsung oleh orang yang memerlukannya, karena ulos ini mempunyai keperluan yang sangat khusus, terutama orang yang sering dirundung kemalangan (kematian anak). Karenanya tidak pernah diperdagangkan atau disimpan diparmonang-monangan, itulah sebabnya orang jarang mengenal ulos ini. Bentuknya seperti kain sarung dan rambunya tidak boleh dipotong. Ulos ini juga disebut ulos “giun hinarharan”. Jaman dahulu para orang tua sering memberikan ulos ini kepada anaknya yang sedang mengandung (hamil tua). Tujuannya agar nantinya anak yang dikandung lahir dengan selamat.
Masih banyak lagi macam-macam corak dan nama-nama ulos antara lain: Ragi Panai, Ragi Hatirangga, Ragi Ambasang, Ragi Sidosdos, Ragi Sampuborna, Ragi Siattar, Ragi Sapot, Ragi si Imput ni Hirik, Ulos Bugis, Ulos Padang Rusa, Ulos Simata, Ulos Happu, Ulos Tukku, Ulos Gipul, Ulos Takkup, dan banyak lagi nama-nama ulos yang belum disebut disini. Menurut orang-orang tua jenis ulos mencapai 57 jenis. Seperti telah diterangkan, ulos mempunyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara adat batak, karena itu tidak mungkin kita bicarakan adat batak tanpa membicarakan hiou, ois, obit godang atau uis yang kesemuanya adalah merupakan identintas orang Batak.
Penerima Ulos
Menurut tata cara adat batak, setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos sejak lahir hingga akhir hayatnya. Inilah yang disebut ulos “na marsintuhu” (ulos keharusan) sesuai dengan falsafah dalihan na tolu. Pertama diterima sewaktu dia baru lahir disebut ulos “parompa” dahulu dikenal dengan ulos paralo-alo tondi . Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (kawin) yang disebut ulos “marjabu” bagi kedua pengantin (saat ini desebut ulos “hela”).
Seterusnya yang ketiga adalah ulos yattg diterima sewaktu dia meninggal. dunia disebut ulos “saput”.
I. Ulos Saat Kelahiran.
Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga. 1. Bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping sianak, hanyalah orangtuanya saja (mar amani… ). 2. Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar disamping sianak, juga ayah dan kakeknya (marama ni… dan ompu ni… ). Gelar ompu… bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan “si”, maka gelar yang diperoleh itu diperdapat dari anak sulung perempuan (ompung bao). Bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar ompu yang diterimanya berasal dari anak sulung laki-laki (Ompung Suhut).
Untuk point pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan dua buah ulos yaitu ulos parompa untuk sianak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk sianak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri-suri ganjang atau ulos sitoluntuho. Untuk point kedua, hula-hula harus menyediakan ulos sebanyak tiga buah, yaitu ulos parompa untuk sianak, ulos pargomgom untuk ayahnya, dan ulos bulang-bulang untuk ompungnya.
Seiring dengan pemberian ulos selalu disampaikan kata-kata yang mengandung harapan agar kiranya nama anak yang ditebalkan dan setelah dianya nanti besar dapat memperoleh berkah dari Tuhan Yang Maha Esa. Disampaikan melalui umpama (pantun). Pihak hula-hula memberikan ulos dari jenis ulos bintang maratur, tetapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh saja ulos mangiring.
II. Ulos Saat Perkawinan
Dalam waktu upacara perkawinan, pihak hula-hula harus dapat menyediakan ulos “si tot ni pansa” yaitu; 1. Ulos marjabu (untuk pengantin), 2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki, 3. Ulos pamarai diberikan pada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah, 4. Ulos simolohon diberikan kepada iboto (adek/kakak) pengantin laki-laki. Bila belum ada yang menikah maka ulos ini dapat diberikan kepada iboto dari ayahnya. Ulos yang disebut sesuai dengan ketentuan diatas adalah ulos yang harus disediakan oleh pihak hula-hula (orang tua pengantin perempuan).
Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan (sihunti ampang) hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.
Sering kita melihat begitu banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut “ragi-ragi ni sinamot”. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama (pantun) dalam suku Batak disebut “malo manapol ingkon mananggal”. Pantun ini mengandung pengertian, orang Batak tidak mau terutang adat.
Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima “goli-goli” dari ragi-ragi ni sinamot. Timbul kedudukan yang tidak sepatutnya (margoli-goli) sehingga undangan umum (ale-ale) dengan dalih istilah “ulos holong” memberikan pula ulos kepada pengantin.
Tata cara pemberian. Sebuah ulos (biasanya ragi hotang) disediakan untuk pengantin oleh hula-hula. Orang tua pengantin perempuan langsung memberikan (manguloshon) kepada kedua pengantin yang disebut ulos marjabu . Apabila orang tua pihak perempuan diwakilkan kepada keluarga dekat, maka dia berhak memberikan ulos kepada pengantin, akan tetapi bila orang tua laki-laki yang diwakilkan, maka ulos pansamot harus diterima secara terlipat. Sedangkan ulos pargomgom (untuk pangamai) dapat diterima menurut tata cara yang biasa, dan pada peristiwa ini harus disediakan ulos sebanyak dua helai (ulos pasamot dan ulos pargomgom). Dalam penyampaian ulos biasanya diiringi dengan berbagai pantun (umpasa) dan berbagai kata-kata yang mengandung berkah (pasu-pasu). Setelah diulosi dilanjutkan penyampaian beras pasu-pasu (boras sipir ni tondi) ditaburkan termasuk kepada umum dengan mengucapkan “horas” tiga kali.
Selanjutnya menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau yang mewakilinya dalam hal ini seiring dengan penyampaian umpasa dan kata-kata petuah. Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos si tot ni pansa kepada pamarai dan simolohon. Biasanya pemberian ini disampaikan oleh suhut paidua (keluarga/turunan saudara nenek). Setelah ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang (paman) pengantin laki-laki.
Tata cara urutan pemberian ulos adalah sebagai berikut; 1. Mula-mula yang memberikan ulos adalah orang tua pengantin perempuan, 2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan termasuk tulang rorobot, 3. Kemudian disusul pihak dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang disebut paidua (pamarai), 4. Kemudian disusul oleh oleh pariban yaitu boru dari orang tua pengantin perempuan, 5. Dan yang terakhir adalah tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari paranak dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari paranak. Bahagian ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang/paman pengantin laki-laki, inilah yang disebut “tintin marangkup”.
III. Ulos Saat Kematian.
Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberikan kepada seseorang ialah ulos yang diterima pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat (status memurut umur dan turunan) seseorang menentukan jenis ulos yang dapat diterimanya. Jika seseorang mati muda (mate hadirianna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut “parolang-olangan” biasanya dari jenis parompa. Bila seseorng meninggal sesudah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka kepadanya diberi ulos “saput” dan yang ditinggal (duda, janda) diberikan ulos “tujung”. Bila yang mati orang tua yang sudah lengkap ditinjau dari segi keturunan dan keadaan (sari/saur matua) maka kepadanya diberikan ulos “Panggabei”.
Ulos “jugia” hanya dapat diberikan kepada orang tua yang keturunannya belum ada yang meninggal (martilaha martua).
Khusus tentang ulos saput dan tujung perlu ditegaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak “tulang”, sebagai bukti bahwa tulang masih tetap ada hubungannya dengan kemenakan (berenya).
Sedang ulos tujung diberikan hula-hula, dan hal ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah.
Tata cara pemberiannya. Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga, setelah hula-hula mendengar khabar tentang ini, disediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak tulang menyediakan ulos saput. Pemberiannya diiringi kata-kata turut berduka cita (marhabot ni roha). Setelah beberapa hari berselang, dilanjutkan dengan acara membuka (mengungkap) tujung yang dilakukan pihak hula-hula. Setelah mayat dikubur, pada saat itu juga ada dilaksanakan mengungkap tujung, tergantung kesepakatan kedua belah pihak.
Hula-hula menyediakan beras dipiring (sipir ni tondi), air bersih untuk cuci muka (aek parsuapan), air putih satu gelas (aek sitio-tio). Pelaksanaan acara mengungkap tujung umumnya dibuat pada waktu pagi (panangkok ni mata ni ari). Setelah pihak hula-hula membuka tujung dari yang balu, dilanjutkan dengan mencuci muka (marsuap). Anak-anak yang ditinggalkan juga ikut dicuci mukanya, kemudian dilanjutkan dengan penaburan beras diatas kepala yang balu dan anak-anaknya.
Memberi ulos panggabei. Bila seseorang orang tua yang sari/saur matua meninggal dunia, maka seluruh hula-hula akan memberi ulos yang disebut ulos Panggabei. Biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, dan cicit). Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula-hula mulai dari hula-hula, bona tulang, bona ni ari, dan seluruh hula-hula anaknya dan hula-hula cucu/cicitnya. Acara kematian untuk orang tua seperti ini biasanya memakan waktu sangat lama, adakalanya mencapai 3-5 hari acaranya. Biaya acaranya cukup besar, karena inilah acara puncak kehidupan orang yang terakhir.
Yang Memberikan Ulos
Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada prinsipnya pihak hula-hulalah yang memberikan ulos kepada parboru/boru (dalam perkawinan). Tetapi diwilayah Pakpak / Dairi dan Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada kula-kula (kalimbubu) atau mora. Perbedaan spesifik ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna ulos dalam upacara adat.
Semua pelaksanaan adat batak dititik beratkan sesuai dengan “dalihan na tolu” (tungku/dapur terdiri dari tiga batu) yang pengertiannya dalam adat batak ialah dongan tubu, boru, hula-hula harus saling membantu dan saling hormat menghormati.
Di wilayah Toba yang berhak memberikan ulos ialah : 1. Pihak hula-hula (tulang, mertua, bona tulang, bona ni ari, dan tulang rorobot). 2. Pihak dongan tubu (ayah, saudara ayah, kakek, saudara penganten laki-laki yang lebih tinggi dalam kedudukan kekeluargaan). 3. Pihak pariban (dalam urutan tinggi pada kekeluargaan). Ale-ale (teman kerabat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah diluar tohonan Dalihan na tolu (pemberian ale-ale tidak ditentukan harus ulos, ada kalanya diberikan dalam bentuk kado dan lain-lain).
Dari urutan diatas jelaslah bahwa yang berhak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan dari sipenerima ulos.
(Penulis adalah Wartawan, dan Ketua Nahdatul Ulama dan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Toba Samosir tinggal di Balige. Aktip sebagai perajin tenun ulos.)

diambil dari : http://borsaksirumonggurborubere.wordpress.com/category/barita-sian-pengurus/ 

Nilai Filosofi Rumah Adat batak

Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yang mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yang terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yang diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah.
Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yang diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.
Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.
Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.
Biasanya tahapan yang dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yang digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yang diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.
Kayu yang suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yang seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.
Tahapan selanjutnya yang dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yang pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yang mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.
Salah satu hal penting yang mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yang kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yang dibantu beberapa tiang penopang yang lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yang bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yang mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.
Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yang berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.
Untuk mendukung rangka bagian atas yang disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yang layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yang dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.
Di sebelah depan bagian atas yang merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yang mengatakan “Kalau ada jarum yang patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati.
“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yang membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan list plank. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yang berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yang selalu peduli terhadap apa yang terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan
Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yang dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yang disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yang mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”
Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yang disebut dengan “talaga”. Semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yang dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yang tercela atau perbuatan yang dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.
Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.
Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yang tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yang mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.
Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah para-para dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yang mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yang artinya kira-kira jika manusia yang bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yang adil dan selalu diayomi.
Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yang berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yang berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.
Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yang cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yang punya rumah adalah orang yang senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.
Gorga
Disebelah depan rumah dihiasi dengan oramen dalam bentuk ukiran yang disebut dengan “gorga” dan terdiri dari beberapa jenis yaitu gorga sampur borna, gorga sipalang dan gorga sidomdom di robean.
Gorga itu dihiasi (dicat) dengan tlga warna yaitu wama merah (narara), putih (nabontar) dan hitam (nabirong). Warna merah melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang berbuah kebijaksanaan. Warna putih melambangkan ketulusan dan kejujuran yang berbuah kesucian. Wama hitam melambangkan kerajaan dan kewibawaan yang berbuah kepemimpinan.
Sebelum orang Batak mengenal cat seperti sekarang, untuk mewarnai gorga mereka memakai “batu hula” untuk warna merah, untuk warna putih digunakan “tano buro” (sejenis tanah liat tapi berwana putih), dan untuk warna hitam didapat dengan mengambil minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong. Sedangkan untuk perekatnya digunakan air taji dari jenis beras yang bernama Beras Siputo.
Disamping gorga, rumah Batak juga dilengkapi dengan ukiran lain yang dikenal sebagai “singa-singa”, suatu lambang yang mengartikan bahwa penghuni rumah harus sanggup mandiri dan menunjukkan identitasnya sebagai rnanusia berbudaya. Singa-singa berasal dari gambaran “sihapor” (belalang) yang diukir menjadi bentuk patung dan ditempatkan di sebelah depan rumah tersebut. Belalang tersebut ada dua jenis yaitu sihapor lunjung untuk singa-singa Ruma dan sihapor gurdong untuk rumah Sopo.
Hal ini dikukuhkan dalam bentuk filsafat yang mengatakan “Metmet pe sihapor lunjung di jujung do uluna” yang artinya bahwa meskipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan citra nama baiknya.
Perabot Penting
Berbagai bentuk dan perabotan yang bernilai bagi orang Batak antara lain adalah “ampang” yang berguna sebagai alat takaran (pengukur) untuk padi dan beras. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Ampang di jolo-jolo, panguhatan di pudi-pudi. Adat na hot pinungka ni na parjolo, ihuthononton sian pudi”. Pengertian yang dikandungnya adalah bahwa apa bentuk adat yang telah lazim dilaksanakan oleh para leluhur hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Perlu ditambahkan bahwa “panguhatan” adalah sebagai tempat air untuk keperluan memasak.
Di sebelah bagian atas kiri dan kanan yang letaknya berada di atas pandingdingan dibuat “pangumbari” yang gunanya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang diperlukan sehari-hari seperti kain, tikar dan lain-lain. Falsafah hidup yang disuarakannya adalah “Ni buat silinjuang ampe tu pangumbari. Jagar do simanjujung molo ni ampehon tali-tali”.
Untuk menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi dan mempunyai harga yang mahal biasanya disimpan dalam “hombung”, seperti sere (emas), perak, ringgit (mata uang sebagai alat penukar), ogung, dan ragam ulos seperti ragi hotang, ragi idup, ragi pangko, ragi harangan, ragi huting, marmjam sisi, runjat, pinunsaan, jugia so pipot dan beraneka ragam jenis tati-tali seperti tutur-tutur, padang ursa, tumtuman dan piso halasan, tombuk lada, tutu pege dan lain sebagainya.
Karena orang Batak mempunyai karakter yang mengagungkan keterbukaan maka di kala penghuni rumah meninggal dunia dalam usia lanjut dan telah mempunyai cucu maka ada acara yang bersifat kekeluargaan untuk memeriksa isi hombung. Ini disebut dengan “ungkap hombung” yang disaksikan oleh pihak hula-hula.
Untuk keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana, ada tempat menyimpan barang-barang yang disebut dengan “rumbi” yang fungsinya hampir sama dengan hombung hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak semewah hombung.
Sebagai tungku memasak biasanya terdiri dari beberapa buah batu yang disebut “dalihan”. Biasanya ini terdiri dari 5 (lima) buah sehingga tungku tempat memasak menjadi dua, sehingga dapat menanak nasi dan lauk pauk sekaligus.
Banyak julukan yang ditujukan kepada orang yang empunya rumah tentang kesudiannya untuk menerima tamu dengan hati yang senang yaitu “paramak so balunon” yang berarti bahwa “amak” (tikar) yang berfungsi sebagai tempat duduk bagi tamu terhormat jarang digulung, karena baru saja tikar tersebut digunakan sudah datang tamu yang lain lagi.
“Partataring so ra mintop” menandakan bahwa tungku tempat menanak nasi selalu mempunyai bara api tidak pernah padam. Menandakan bahwa yang empunya rumah selalu gesit dan siap sedia dalam menyuguhkan sajian yang perlu untuk tamu.
“Parsangkalan so mahiang” menandakan bahwa orang Batak akan berupaya semaksimal mungkin untuk memikirkan dan memberikan hidangan yang bernilai dan cukup enak yang biasanya dari daging ternak.
Untuk itu semua maka orang Batak selalu menginginkan penghasilan mencukupi untuk dapat hidup sejahtera dan kiranya murah rejeki, mempunyai mata pencaharian yang memadai, sehingga disebut “Parrambuan so ra marsik”.
Tikar yang disebut “amak” adalah benda yang penting bagi orang Batak. Berfungsi untuk alas tidur dan sebagai penghangat badan yang dinamai bulusan. Oleh karena itu ada falsafah yang mengatakan “Amak do bulusan bahul-bahul inganan ni eme. Horas uhum martulang gabe uhum marbere”.
Jenis lain dari tikar adalah rere yang khusus untuk digunakan sebagai alas tempat duduk sehari-hari dan bila sudah usang maka digunakan menjadi “pangarerean” sebagai dasar dari membentuk “luhutan” yaitu kumpulan padi yang baru disabit dan dibentuk bundar. Tentang hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Sala mandasor sega luhutan” di mana pengertiannya adalah bahwa jika salah dalam perencanaan maka akibatnya tujuan dapat menjadi terbengkalai.
Penutup
Nilai budaya itu sangat perlu dilestarikan dan hendaknya dapat ditempatkan sebagai dasar filosofi sebagai pandangan hidup bagi generasi penerus kelak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya, karena itu Bangso Batak perlu menjaga citra dan jati dirinya agar keberadaannya tetap mendapat tempat dalam pergaulan hubungan yang harmonis.
Penulis juga mengakui bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna maka segala bentuk saran dan masukan yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati, Kiranya Tuhan memberkati kita semua. HORAS


dari : http://gema-budaya.blogspot.com/2012/02/nilai-filosofi-rumah-adat-batak.html
Sumber : http://tanobatak.wordpress.com/2008/09/03/nilai-filosofi-rumah-adat-batak/
Gambar : http://ithetdjaya.blogspot.com/2010/09/rumahku-di-indonesia-ada-33-part.html

Minggu, 19 September 2010

Rest In Peace-1 (Kartini Dameria br. Pangaribuan, N. Nathalia)


Disaat semua Warga Negara RI sedang mempersiapkan masa-masa liburan Idul Fitri, kami semua Pomparan Op. Pamontang Laut sedang bersiap-siap untuk menghadapi kondisi terburuk dari salah seorang anggota kami yakni Namboru kami Kartini Dameria, SE

Saat itu, tanggal 8 September 2010 saya berangkat ke kantor dengan hati yang memang kurang menyenangkan. Selain, hari itu adalah hari terakhir kerja (sebab besoknya adalah cuti bersama Lebaran), saya juga harus menjemput ito (boru ni Bapauda yang kebetulan sudah kuliah di UI) di Terminal Pasar Minggu jam 1 siang.

Akhirnya, tepat waktu aku jemput itoku itu dan sepanjang perjalanan aku ditelepon keluarga bahwa Namboru Kartini sudah masuk RS Cipto lagi dan posisinya sudah di UGD. Keluarga juga meminta aku untuk mencarikan klinik untuk perawatan karena ternyata di RSUPN Cipto, Namboru Kartini sudah disarankan untuk pulang. Rencananya di Klinik tersebut, Namboru Kartini hanya perawatan yang layak saja karena semua dokter di RSUPN Cipto sudah  "angkat tangan" untuk merawat sakitnya. Pengobatannya juga simptomatik dan tidak spesifik, sebab memang kondisinya sudah parah sekali.

Kami keluarga akhirnya memutuskan untuk memindahkan Namboru ini ke RSPAU Esnawan Antariksa Halim. Setelah berupaya semaksimal mungkin, dan dengan sedikit "kebohongan", akhirnya Namboru ini diperkenankan untuk dirawat di RSPAU. Dengan bantuan oksigen (karena kepayahan bernafas akibat di paru-parunya ada air) dan infus untuk memasukkan cairan. Dari tangannya juga sudah merembes air, jadi seolah tangannya seperti spon/busa. Sehingga aku perkirakan juga bahwa cairan infus tersebut sebenarnya tidaklah bekerja sebagimana mestinya. Tapi begitulah.... "show must go on"

Hari demi hari, kami lalui. Sebenarnya aku sendiri sudah berfirasat bahwa tidak lama lagi Namboru ini akan bersama dengan kami. Hal ini dilihat dari kondisi terakhirnya yang memang cukup parah. Tapi semua usaha akan dilakukan dengan standar "TERBAIK" 


Tepat hari Kamis tanggal 11 September 2010, aku dan istri berangkat untuk membesuk Namboru ini. Dari awal kami pergi sebenarnya sudah banyak kejadian yang menghalangi kami. Memang tujuan semula kami membesuk adalah untuk berdoa buat kesembuhan Namboru ini. Halangan dimulai saat anak kami agak sulit makan hari itu, setelah dibujuk, barulah dia mau makan. Setelah itu disepanjang perjalanan, ketika di dekat pintu masuk Komplek Halim, tali kopling Vespaku (Jambrong) tiba-tiba kendor. Aku sudah panik. Sebab, bengkel vespa dan bengkel mpotor di daerah situ banyak yang tutup. Tapi akhirnya kami menemukan satu bengkel motor (milik marga Marbun) walaupun ternyata kahirnya aku juga yang kerjakan. Sebab tukang bengkel tersebut tidak bisa nengerjakan Vespa. Hufff...menjengkelkan.

Setelah tiba di rumah sakit, kami menghadapi halangan kedua yaitu ternyata sudah ada kesepakatan Keluarga Pomparan Op. Pamontang Laut  akan mengadakan Perjamuan Kudus tanda penyerahan keluarga terhadap kesembuhan Namboru kepada Tuhan. Dan sekaligus meng-amin-kan jawaban Tuhan. Walaupun sudah ada kesepakatan, dimana Bapakku bersedia mengusahakan Pendeta untuk melayani, ternyata setelah diusahakan...sampai jam 12 siang, Bapak belum dapat Pendeta yang bersedia melayani. Di HKBP memang ketat peraturannya, jadi diupayakan dari gereja lain yang bersedia. Akhirnya aku menawarkan bantuan, agar Bp. Pdt Eko P. S, S.Th (dari gereja POUK BDP). Akhirnya singkat cerita, keuarga menyetujui agar Pak Eko yang melayani. Masalah yang timbul adalah bahwa kami tidak punya kendaraan untuk menjemput (Walaupun Pak Eko bersedia untuk naik motor ke Rumah sakit, namun tidaklah etis hal tersebut dilakukan). Kami mencoba mencari kendaraan yang mana terakhir adalah opsi meminjam kendaraan tetangga (dongan sahuta) Sitanggang. 

Sepanjang kami berada di rumah sakit, kami melakukan kegiatan bernyanyi dan berdoa bersama Namboru ini. Disela-sela kami bernyanyi, dia sesekali mengangkat tangan, berkata-kata "Capek" atau "Cepat pulang", atau aghghgh dll. Tapi saat kami berdoa, kami merasakan kekuatan lain yang di depan menghalangi kami...... Tiba-tiba saja kami tidak tau harus bernyanyi apa karena buku nyanyian yang ada hanya BUKU ENDE. Itupun...tiba-tiba kami sulit mencari lagu yang kami ketahui...dan masih banyak lagi..... Tapi kami tetap berdoa dan kami percaya TUHAN JESUS tolong kami....

Sepulang dari Rumah Sakit...kami meghalangi lagi halangan dimana tiba-tiba Vespaku tidak bisa distater. Hal tersbut terjadi di SPBU di daerah Pagelarang. hampir setengah jam aku coba untuk menghidupkannya. Akhirnya berhasil..... dan kami lanjutkan perjalana pulang sebab saat itu sudah jam 15.20 Wib.

Sesampainya dekat Perum Puri Gading, di jalan yang agak rusak....kembali vespaku ngadat dan susah dihidupkan..... kami panik karan sudah Jam 15.55 menit. Sementara aku berjanji dengan Pak Eko jam 18.00 wib aku akan menjemput dia di Gereja. Setelah beberapa kali kustater tidak mau hidup, aku dan iostri memutuskan untuk pualng dengan kendaraan lain, dan Vespa ditinggal di Indomaret dekat Perum Puri Gading. 

Kami menemui sebuah Taksi merek "KTI", aku datangi dan menanyakan apakah Bapak supirnya sedang menunggu atau istirahat...tapi karean tidak kooperatif akhirnya kutinggalkan dengan harapan mendapat taksi lain atau terpaksa naik ojek ke rumah. Puji Tuhan, sebuah Bluebird lewat dan akhirnya kami bisa pulang...dengan kondisi lusuh dan emosi.....

Kira-kira pukul 16.00, kami sampai di rumah dan aku mencoba untuk beristirahat dengan harapan bisa lebih segar nantinya. Tapi biarpun begitu, aku terpaksa bangun kira-kira pukul 17.00 wib. Sambil aku mempersiapkan segala sesuatunya, telepon dari Bapak datang untuk memebritahu bahwa kami (termasuk) pendeta akan dijemput adikku Advent. Aku langsung pergi ke rumah tetangga yang ku panggil Kakak (Sitanggang/br. Sitorus). sekaligus memberitahu aku tidak jadi pinjam mobil. Tapi sampai jam 17.30 wib adikku belum datang, dan akhirnya kami pulang. Kami masih sempat menunggu sampai jam 17.50 wib, sebelum akhirnya kuputuskan menelpon adikku untuk menyuruhnya langsung saja ke RSPAU sedangkan aku sendiri berangkat ke rumah Abang Sitanggang untuk kembali meminjam mobil. 

Akhirnya aku dapat menjemput Bpk. Pdt. Eko tepat jam 18.15 wib, dan langsung kami menuju rumah sakit melalui jalan arah Mabes Cilangkap. Memang sesampainya di RS, kami agak terlambat, tetapi seluruh keluarga sudah berkumpul.

Acara berjalan dengan baik, dan masih kulihat Namboru dapat mengikuti Perjamuan Kudus dengan makan roti dan minum anggur Perjamuan. Sempat juga di didoakan untuk kesembuhannya. Puji Tuhan, dia terlihat lebih cerah.....auranya lebih baik saat setelah berdoa. Akhirnya semua selesai dan kami kembali pulang. Bpk. Pdt. Eko sendiri diantar oleh adikku ke gereja POUK, sementara aku baru oulang dari RS kurang lebih jam 23.00 Wib. 

Sampai di SPBU di daerah Jl. Sirojol Munir, ada kejadian lagi. Saat aku mengisi bensin, aku bermaksud mengisi bensin seharga 20 Ribu rupiah. Tetapi apa dinyana, si petugas malah mngisi 20 liter. Akhirnya kembali aku tertahan di SPBU, guna mengeluarkan isi bensin yang ada dalam tanki mobil, dimana disepakati bensin yang kubayar adalah seharga 35 ribu rupiah..... 1 jam yang konyol.

Sesampai nya di rumah, aku mandi dan beristirahat.....memang hari yang melelahkan......

Rest in Peace-2 (In Memoriam Kartini Dameria br. Pangaribuan, N. Nathalia)



Tepat tanggal 14 September 2010, sebenarnya adalah hari pertama seluruh kantor masuk kerja. Baik pemerintahan maupun swasta. hari itu pun aku berangkat kerja dengan situasi jalanan yang lengang. Aku sangat menikmati perjalanan. Oh ya...hari itu omprengan tidak ada, aku bersama-sama dengan langganan omprengan, dimana kami berjumlah sekitar 4 orang menaiki taksi dari daerah Komsen Jatiasih.

Sesampainya di kantor, aku langsung ganti baju. Disaat itulah datang telepon dari Namboru Vera (Op. si Medy) bahwa keadaan Namboru sudah gawat. Segera aku langsung telepon Frans (sepupuku) dan kembali ku konfirmasi kondisi Namboru Kartini. Aku tidak lagi memastikan, tetapi langsung kupercaya memang kondisi sudah cukup parah. 

Aku langsung ambil taksi (express) menuju RSPAU. Di jalan perasaanku mengatakan, bahwa aku akan sempat melihatnya menghembuskan nafas terakhirnya. Setiba di RSPAU, langsung aku naik ke ruang Merak, dan langsung menuju ruangan tempat Namboru di rawat. Kulihatlah nafasnya sudah mulai tersengal-sengal walaupun masih kulihat matanya terbuka. Tangisku tak tertahan.....melihat dia kepayahan bernafas..... Aku hubungi suster perawat yang ada untuk mengidentifikasi kondisi Namboru. Memang dia berkata bahwa tinggal menunggu saja.... sambil kami mencoba untuk mengajaknya berdialog, satu persatu keluarga berdatangan. Keluarga Marpaung yang ada dan kulihat saat itu adalah Nathalia, 2 orang berenya Amangboruku, Ank adiknya dan suster. Sementara itu dari kami Pangaribuan ada Namboru Vera, Inangtua Frans, aku dan mulai berdatanganlah Bapak, Frans, Namboru Herlina dll........

Sekitar pukul 10.00, aku bergegas lagi ke meja perawat untuk mengetahui kondisi terkahir Namboru ini.... Kulihat dia makin sulit bernafas, denyut jantungnya tidak lebih dari 60 per 30..... kadang pun alat tidak bisa mendeteksi, karena semakin lemah...... Kami semua berdoa.....sambil menangis karena kami mulai merasakan akan kehilangan anggota keluarga...... Karena keluarga berfikir untuk kemungkinan terburuk, Bapak menyarankan aku untuk segera mencari informasi tentang Rumah Duka Cikini. Tapi aku menyarankan tidak usah, dan kusarankan juga agar memakai Rumah Duka RSPAU saja. Segera aku mengambil inisiatif untuk mencari informasi tentang pemakaian Rumah Duka RSPAU.....

Kurang lebih jam 11.00 wib, aku naik kembali ke atas dan segera kuinformasikan segala sesuatunya. Aku masih bertemu Pak Tumakaka (salah satu Anggota Majelis Gereja POUK BDP) dan Opung Simatupang (Penasehat Parsahutaon Dos Roha) sedang melayat salah seorang anggota TNI (mungkin mantan tetangganya di Halim dahulu) yang meninggal dan disemayamkan di Rumah Duka RSPAU. Sempat juga mereka menawarkan bantuan. Aku juga menelpon Bpk. Pdt Eko dengan harapan mereka bersiap apabila ada sesuatu yang penting terutama dalam  pelayanan di Rumah Duka nantinya. 

Aku masih melihat Namboru itu sedikit demi sedikit mulai tertutup matanya dan Nafasnya mulai satu-satu. Sempat juga kudengar bunyi tulang badan atau rahang gemeretak. Dan terakhir kulihat Namboru menarik nafasnya...dan ternyata itulah nafas terakhirnya..... Aku segera ke meja perawat untuk meminta mereka segera memeriksa.... dan benarlah...Namboru Kartini dinyatakan meninggal tepat pukul 11.15 Wib.

Amangboru marpaung kulihat baru datang.....setelahnya.....dan begitupun keluarga Marpaung yang lain......Segera setelah itupun persiapan dilakukan....
Keluarga Marpaung memutuskan agar Nambporu dimakamkan di Narumonda....

Malam itu adalah Ibadah pelepasan, dan besok paginya Jenazah diberangkatkan.....Aku sendiri tidak ikut....tapi tetap aku berdoa....

Tertulis Firman Tuhan :

"Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini." "Sungguh," kata Roh, "supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka." (Wahyu 14 : 13)


Aku berdoa agar kiranya Tuha Jesus memberi pengampunan buat alm. Namboru Kartini, dan bersama Dia di surga kekal..... Sungguh sebuah Khotbah yang nyata dan berguna bagi kehidupan kita semua.... Amien

Minggu, 22 Agustus 2010

Diberkati untuk menjadi Berkat

Saya merasa sangat diberkati saat menghadiri sebuah kebaktian persekutuan. Anda bisa membaca Yesaya 54:2-4. Dibalik ayat ini ternyata menyimpan janji Tuhan yang luar biasa. Sebenarnya ayat ini sangat cocok untuk para pekerja. Tapi saya merenungkan yang lebih lagi, dan saya mendapatkan berkat yang luar biasa. 

Point-1. Lapangkanlah tempat kemahmu

Kalau coba lihat secara jelas, bahwa ayat ini adalah perintah yang ditujukan kepada pribadi kita. Lapangkan tempat kemahmu, mengandung arti mari kita buka tempat sekeliling kita. Jika ternyata masih ada tanah milik kita yang belum kita fungsikan untuk dipergunakan.  Jadi misal kita punya rumah dengan tipe 45 dan luas tanah 150meter persegi, artinya kita harus mempersianpkan sisa tanah 105 meter persegi dari 150 meter persegi tersebut untuk kita pergunakan dan fungsikan. Jangan menjadi tanah/ tempat yang sia-sia. Karena apabila kita membutuhkan sisa tanah itu, kita sudah dengan mudah mempergunakan dan memfungsikannya. 

Point-2, Bentangkanlah tenda tempat kediamanmu.

Masih perintah juga. Setelah kita mempersiapkan lahan tersebut kita disuruh kembali untuk membentangkan tenda kediaman kita. Artinya dari lahan rumah type 45/150 m2 tersebut, kita dapat memakai lahan tersebut untuk untuk membuat kediaman kita selebar dan seluas-luasnya dengan batasan 150 meter persegi.

Point-3, Janganlah Menghematnya.

Ini adalah perintah penting, sekaligus kesimpulan point-1 dan point-2 diatas. Jangan menghemat, artinya pakailah keseluruhan tanah dan rumah itu sebesar-besar dan seluas-luasnya. Dengan arti kata jangan ada yang disimpan. 


Point-4, Sebab engkau akan mengembang ke kanan dan ke kiri 

Banyak perusahaan mempunyai visi menjadi yang terdepan di bidangnya atau core bussiness-nya. Banyak orang juga mempunyau visi menjadi orang no.1, terdepan dibidangnya, dsb. Tapi diayat ini nabi Yesaya bernubuat bahwa apabila point 1 s/d 3 diatas kita lakukan, maka kita dijanjikan salah satu seperti point-4 ini. Buat apa terdepan tapi tidak lebar, buat apa terbaik tapi tidak besar. Tuhan malah membuat kita melebar/mengembang ke kanan dan kiri. Memang seolah-olah tidak membicarakan tinggi, akan tetapi lihat pada point berikutnya. Jika saya lihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia di  http://kamus.sabda.org/kamus/mengembang ,  me·ngem·bang·kan v 1 membuka lebar-lebar; membentangkan: ~ payung; 2 menjadikan besar (luas, merata, dsb): kerajaan itu ~ kekuasaannya; 3 menjadikan maju (baik, sempurna, dsb): ~ kesenian rakyat;
~ hati ki menggembirakan; menyenangkan; ~ sayap ki memajukan dan meluaskan usaha dagang dsb. 

Arti dari mengambang sudah banyak menaungi keingan hati kita. tergantung apa yang kita mau. 


Point-5, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa

Janji-Nya adalah bahwa keturunan kita akan memperoleh tempat bangsa-bangsa. Ini bisa diartikan sebagai 

a. Keturunan kita menjadi bagian dari bangsa-bangsa

b. Keturunan kita akan menguasai atau bahkan menggantikan tempat bangsa-bangsa.

Saya melihat kata "bangsa-bangsa" bisa berarti bangsa sendiri atau bangsa lain.


Pont-6, akan mendiami kota-kota yang sunyi

Dimana,  disuatu kota, ada kesunyian, kita akan diletakkan Tuhan diam didalamnya. Ini bukan berarti kita terbuang. Mungkin dimaksud dengan kota sunyi adalah sunyi dari gemuruh berita baik yang diperdengarkan dan disampaikan oleh orang-orang pilihan dan yang diutus Tuhan. Bisa siapa saja, bahkan kita juga bisa disitu. Kita membuat kota itu menjadi tidak sunyi karena berita Keselamatan yang kita sampaikan menggema diseluruh daerah/kota itu. Ke tempat-tempat dimana kesunyian karena tidak adanya kabar keselamatan dari Tuhan Yesus yang disampaikan, kesitulah Tuhan akan menempatkan kita dan kita disruh Tuhan untuk tinggal dan berdomisili disitu. 


Keimpulan dari semua itu adalah:  

1. Apabila kita mau menerima berkat Tuhan, maka Tuhan menginginkan kita agar mempersiapkan diri kita. Kembangkan talenta dan potensi kita. Karena berkat Tuhan itu besar. Jadi kalau tempat di hati, pikiran Jasmani dan rohani kita kecil. tentulah banyak berkat Tuhan yang terbuang. Atau kalau Tuhan sudah memberkati kita, tapi kita tidak kembangkan/alirkan dan menjadi saluran berkat itu sebesar-besar dan seluas-luasnya, , maka kita akan menjadi seperti "Laut Mati" yang tak berguna, karena tidak ada kehidupan disitu.

2. Jangan merasa kalau kita sudah cukup untuk "berbakti" pada Tuhan. Di masa pensiun, di masa katif bekerja, di saat-saat sakit parahpun, Tuhan mau kita alirkan dan salurkan berkat Tuhan yang ada pada kita. Jangan disimpan, jangan dihemat, habiskan semua talenta, potensi dan berkat dari Tuhan sehabis-habisnya supaya Tuhan terus mengisi kita dengan berkat-berkat lain yang berlimpah. 

3. Berkat Tuhan akan membuat kita mengembang yakni membuka lebar-lebar apa yang ada pada kita; membentangkan:bisa untuk melindungi (contoh ~ payung); menjadikan besar (luas, merata, dsb): Menguasai; menjadikan maju (baik, sempurna, dsb);
menggembirakan dan menyenangkan banyak orang; memajukan dan meluaskan apapun yang kita kerjakan maupun yang sedang diperjuangkan oleh kita dsb. Karena mengandung kata menguasai, maka kita akan menaklukan kota-kota sunyi dan menduduki apa yang dikuasai oleh orang-orang yang tidak percaya Kabar Keselamatan dari Tuhan Yesus....Setelah kita diberkati Tuhan...sampaikan pada yang lain bahwa Tuhan sudah memeberkatimu agar orang lain yang kau ajak bicara mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus secara rohani. 

Tuhan Yesus Memberkati

Minggu, 18 April 2010

Renungan Harian


Semalam aku menghadiri acara Marhata Togar-togar di sebuah keluarga anggota punguan parsahutaon kami di Jatiasih, yakni keluarga Siadari. Dimana keluarga tersebut baru saja ditinggal Ibu-nya yang dipanggil Bapa di Surga pada tanggal 6 Maret. Dari kesemua yang menyampaikan kata (aku sendiri kebagian untuk berdoa Pembuka) intinya semua berusaha menghibur keluarga tersebut agar dukacitanya cepat berlalu dan berharap hanya kegembiraan yang akan dihadapinya. Aku teringat saat tanggal 6 Maret tersebut, dari salah satu keluarga anggota punguan yang lain yang menyampaikan kabar duka tersebut pada kami. Aku berusaha untuk datang ke rumahnya untuk mengucapkan turut berbela sungkawa. Namun apadaya, saat itu aku juga harus berangkat menghadiri latihan Koor Komisi Kaum Bapak di Gereja. Walhasil, setelah jam 20.30 wib aku pulang. Hari itu juga ada keluarga lain yang ditimpa musibah, dimana juga Ibu dari keluarga tersbut dipanggil Tuhan. Rumah duka adalah di Perum Danamon.  Jadi sepulangnya dari gereja aku langsung berangkat menuju rumah duka  di Perum Danamon. Sepanjang disitu, aku berfikir, apakah aku mengirimkan sms saja ke Keluarga Siadari untuk memberi kata turut berbela sungkawa atau harus datang ke rumahnya. Kelamaan bertimbang, waktu pun berlalu dan besok pagi, dengan pesawat pagi dari Bandara Soetta, keluarga Siadari itu akan pulang ke Sidamanik (bonapasogit, kampung halaman) untuk melakukan acara penguburan sebagai penghormatan terakhir untuk orangtuanya. 

Hari ini aku ditegur melalui ayat Renungan Harian. Aku memeang berprinsip "Kita Wajib & Harus Datang menjumpai sanak Family, tetangga, sahabat, teman dll disaat-saat dukacita menghampiri mereka" Tapi saat dengan keluarga Siadari aku tidak melakukannya... Rasa bersalah menyerangku dan malam sebelum tidur aku mohon ampun pada Tuhan. Kiranya Tuhan mengampuni salahku yang tidak respon terhadap dongan sahuta yang sedang kemalangan itu. 

Renungan Harian yang kubaca akan kubagikan buat semua... Tuhan Yesus Memberkati. Amien 


SENTUHAN KASIH

Bacaan : Kolose 4:10-18

Dulu, setiap Natal tiba, orang Inggris suka mengirim surat pendek
berisi ucapan Natal di atas kartu kosong. Lama-kelamaan cara ini
dianggap tidak praktis. Tahun 1843, Sir Henry Cole mencetak kartu
bergambar disertai ucapan selamat, sehingga ia tinggal membubuhkan
tanda tangan di atasnya. Sejak itulah kartu ucapan mulai populer.
Kini cara itu pun dipandang kurang praktis. Banyak orang mengirim
ucapan Natal lewat SMS. Sekali tekan tombol "Kirim", ratusan orang
menerima ucapan Natal. Praktis memang, tetapi sentuhan kasihnya
kurang terasa.

Untuk menunjukkan cinta kasih, orang harus bersedia repot. Ketika
Rasul Paulus mengakhiri tulisannya bagi jemaat Kolose, ia
mengucapkan salam yang panjang. Salam dari rekan sepelayanannya
disebut satu per satu: dari Aristarkus, Markus, Yustus, Eprafas,
tabib Lukas, dan Demas. Selain itu Paulus juga menulis bagian salam
ini dengan tulisan tangannya sendiri. Padahal isi suratnya ditulis
dengan bantuan seorang sekretaris. Sungguh tidak praktis! Namun,
lewat semua ini Paulus ingin menunjukkan sentuhan kasihnya yang
bersifat pribadi pada jemaat Kolose.

Kesibukan dan kemajuan teknologi kadang membuat kita menyukai segala
sesuatu yang serbapraktis dan otomatis. Sentuhan kasih pun
diabaikan. Ketika seorang sahabat berduka, kita merasa cukup
menelepon atau menyatakan rasa duka lewat SMS, ketimbang membesuk
dan memeluknya. Saat ia menikah, kita hanya menghadiri pestanya.
Enggan menghadiri pemberkatan pernikahannya. Banyak orang merindukan
sentuhan kasih Anda. Maukah Anda sedikit repot untuk mewujudkannya?
--JTI

ORANG LEBIH MEMBUTUHKAN SENTUHAN KASIH ANDA

DARIPADA SEMUA TALENTA DAN HARTA MILIK ANDA

Kamis, 15 April 2010

Habis Petrus terbitlah Markus





Hampir 2(dua) bulan lebih kita mengikuti kisah Mafia Pajak dan Mafia Hukum. Sebenarnya sudah muak karena yang diberitakan adalah yang itu-itu saja. Apakah itu karena memang para penyidik memang belum mendapat perkembangan temuan atau memang mereka membuat para pemirsa televisi bahkan rakyat bosan sehingga kasus Bank Century menguap atau memang ini adalah langkah politik dibalik hukum yang dilakukan SBY guna menekan lawan-lawan politiknya atau apa lagi, yang jelas saya sendiri sudah bosan melihatnya.

Saya lebih tertarik, entah kebetulan atau tidak, muncul nama-nama yang menurut saya sebenarnya harus diubah. MARKUS, singkatan dari MAkelaR KasUS. Saya lebih tertarik membicarakan ini ketimbang membicarakan hal lain berkenaan dengan kasus Mafia Pajak dan Mafia Hukum itu. 

Markus, salah satu dari 4 (empat)  kitab Injil dimana banyak pandangan yang menyatakan bahwa Kitab ini adalah rangkuman dari Injil Matius dan Lukas. Markus menulis Injil ini terutama untuk orang-orang Grika dan bangsa-bangsa lainnya yang berbicara bahasa Yunani di kekaisaran Romawi untuk mengabarkan Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Namanya yang sesungguhnya ialah Markos Ioanne, jadi Markus itu sendiri nama yang modern. Kalau mau lebih jelasnya silahkan dilihat di http://diosdias.wordpress.com/2007/03/02/arti-nama-nama-pengarang-injil/

Beberapa waktu dulu, di era Suharto berkuasa, sekitar tahun 80an, kita juga mendengar adanya PEnembak misTeRiUS disingkat Petrus. Petrus sendiri dalam Alkitab, disebut Yesus,  artinya adalah Batu Karang. Asal muasalnya bernama Simon. Setelah berdebat dengan Yesus saat Jamuan Terakhir, Yesus mengganti namanya menjadi Petrus, dan akhirnya setelah Yesus terangkat ke sorga, Petrus menjadi Rasul Misisonaris yang luar biasa. 

Ada yang aneh?????

Ya, di Indonesia istilah Petrus dan Markus punya indikasi yang sangat negatif. Petrus: Penembak Misterius yang menghilangkan banyak orang, terutama lawan-lawan politik, walaupun dijadikan juga sebagai kegiatan untuk menciptakan keamanan. Petrus juga menjadi senjata pemusnah yang disinyalir sebagai "Smooth Criminal, Big effect" baik di dunia kejahatan dan di dunia kebaikan. Banyak nyawa dihilangkan tanpa sebab. Bahkan isu hot-nya adalah pemusnahan lawan politik penguasa. Di dunia kejahatan, walaupun penjahat itu jahat, apak tidak  sebaiknya juga harus melalui proses hukum yang adil?  Akhirnya ini juga secara tidak langsung menyinggung umat Kristiani juga. Petrus si Batu Karang, menjadi Penembak Misterius....pemusnah massal sesungguhnya, Smooth Criminal. Saya tidak tahu kenapa nama ini dipakai untuk hal-hal yang berbau kriminal/misterius atau apa lagi istilah yang bermuara semua ke arah yang ekstreem kiri.Padahal Tuhan Yesus membawa nama ini menjadi nama yang ekstreem kanan bahkan menjadi luar biasa.

Istilah Markus, Makelar Kasus. Orang yang kegiatannya juga tidak jauh dari ekstreem kiri. Menyuap, korupsi, mengakali Negara dan membuat pendapatan yang diperoleh dengan cara tidak wajar kemudian ditampilkan secara wajar alias pencucian uang. Selain yang melakukan juga mendapat keuntungan sendiri, Negara malah mengalami kerugian yang tak kalah hebat. Padalah Markus tadi dalam hidupnya membawa Kabar Baik tentang Yesus Kristus. Bukan kabar buruk tentang penyuapan dlsb. Namun nama yang baik ini digiring lagi ke arah ekstreem kiri yakni Menyuap, korupsi, mengakali Negara dan membuat pendapatan yang diperoleh dengan cara tidak wajar kemudian ditampilkan secara wajar alias pencucian uang.

Ironis memang, jika saja Kristen adalah mayoritas dinegara ini, tentunya itu sudah diprotes habis-habisan. Namun karena minoritas kita berdoa sajalah semoga semuanya itu cepat berlalu walaupun tidak hilang karena dikenang sepanjang masa. Tuhan Yesus sudah mengingatkan, bahwa penderitaan (saya rasa juga termasuk penghinaan terhadap nama-nama yang baik dalam Alkitab sekarang ini) sudah dialami Yesus terlebih dahulu. Tugas kita hanya berdoa, memohon ampunan bagi orang yang memunculkan istilah tersebuat agar segera bertobat. 

Saat ini pencitraan nama-nama Kristen memang sangat dibutuhkan sebagai tampilan hubungan pribadi dengan Kristus dalam kehidupannya. Dulu Petrus, sekarang Markus...apalagi nanti? Lukas, Yohanes...Paulus atau apa saja....kiranya kita yang memberi nama anak kita atau yang sekarang sadar namanya diambil dari nama-nama orang baik bahkan rasul atau nabi di Alkitab semakin teguh menjadikan Alkitab sebagai sumber informasi tentang Allah dan kebaikan yang diciptakan-Nya bagi kehidupan pribadi lepas pribadi. Tuhan Memberkati...Amien